Pendidikan Islam Nusantara

Menyongsong Muktamar Ke-33 NU

Oleh : A Helmy Faishal Zaini

Ketua lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU) dan Anggota Komisi X DPR RI

Berbicara seluk beluk dunia pendidikan di Indonesia tentu saja kita tidak bisa melepaskan diri dari pembicaraan mengenai pesantren. Sebab pesantren merupakan basis historis serta akar filosofis pendidikan di Indonesia itu sendiri. Bahkan meminjam analisis Manfred Ziemek (1984) dalam opusnya Pesantren dan Perubahan Sosial, ia menegaskan bahwa pesantren adalah embrio utama serta tonggak berdirinya sejarah pendidikan di Indonesia sampai dewasa ini.

Apa yang diungkapkan oleh Ziemek tersebut menurut hemat saya tidaklah terlampau berlebihan serta mengada-ada. Di samping perannya dalam mengawal harmonisasi duniawi dan ukhrawi kehidupan masyarakat,  pesantren secara historis didirikan sesungguhnya terutama dalam rangka proses belajar mengajar.

Dalam konteks penyelenggaraan pendidikan, Pesantren, meminjam pisau anlisisnya Ivan Illich (1971) tentang desschooling society, sejatinya merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang ada di Indonesia. Betapa tidak, sebab hanya pesantrenlah yang sampai saat ini dan mungkin sampai ke depan nanti tetap berpegang teguh dan sangat memahami makna pendidkan secara etiko-filosofis.

Kesimpulan tersebut merupakan hal yang lumrah yang bagi siapapun pengamat dunia pendidikan pasti akan menyimpulkan bahwa hanya pesantrenlah yang benar-benar mendidik anak didik dalam arti sesungguhnya. Sementara itu di lain pihak jika kita bandingkan dengan lembaga-lembaga “semi” pendidikan-pengajaran seperti peguruan tinggi misalnya, maka di situ kita akan segera dapat menarik kesimpulan bahwasannya hanya pesantrenlah yang memenuhi kriteria change of behavior-nya pemikir pendidikan berkebangsaan Brazil Paolo Freire.

Maka dari itu jika kita tarik lebih jauh ke dalam terminologi pesantren maka konsep ta’lim, tarbiyah dan ta’dib semuanya terintegasi dalam pesantren. Bahkan Naguib Al-Attas (2010) secara retoris mengatakan bahwa titik kulminasi dari sebuah pendidkan adalah keberhasilan seorang pendidik dalam mengubah perangai anak didiknya. Maka ia pun menyimpulkan bahwa ta’dib (pengadaban) adalah puncak segala kegiatan pendidikan. Asumsi itu bukan tanpa alasan yang ahistoris karena Nabipun sesungguhnya di utus turun ke muka bumi dengan misi utama untuk menyempurnakan akhlak umatnya.

Maka sekali lagi bahwa kesimpulan tentang pesantren sebagai satu-satunya lembaga pendidikan yang ada di Indonesia tidaklah berlebihan dan sangat masuk akal. Karena sesungguhnya hanya pesantrenlah yang mengintegrasikan tigal hal sekaligus dalam kehidupan santri-santrinya yakni ta’lim (pengajaran), tarbiyah (pendidikan), ta’dib (pengadaban). Dan ketiga hal tersebut sampai saat ini sulit untuk kita temukan satu paket secara komprehensif dalam sebuah lembaga pendidikan.

Keunggulan sosiologis dan metodis

Sebagai lembaga yang nyaris dikatakan purba dalam konstelasi pendidikan di Indonesia, pesantren telah terbukti tidak saja hanya bertahan, namun lebih dari itu pesantren juga berkembang bahkan bersaing dengan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Penting untuk dikemukakan pula bahwa pesantren juga mengilhami banyak lembaga pendidikan terutama terkait sistem pemondokan.

Sistem pemondokan yang merupakan ciri utama dari pesantren menjadi sangat marak diadopsi oleh lembaga-lembaga pendidikan lain, baik dalam maupun luar negeri. Sekolah-sekolah berlomba menawarkan sistem full day school, sekolah terintegrasi dengan asrama. Tak terhitung pula jumlah perguruan tinggi yang juga telah menerapkan sistem wajib asrama untuk penguatan pelajaran keagamaan sebagaimana yang terjadi di perguruan tinggi Islam baik yang dikelola pemerintah maupun swasta. Penting untuk dicatat pula bahwa sebagaimana dikemukanan oleh Nazaruddin Umar (2012) terkait sistem pemondokan ini, banyak lembaga pendidikan di tingkat dasar sampai tingkat tinggi di Australia mengadopsi serta meniru apa yang sesungguhnya telah dilakukan oleh pesanren-pesantren di Indonesia sejak sekian ratus tahun lalu lamanya.

Di pihak lain, keunikan serta keunggulan pesantren tidak hanya berhenti pada sebatas sistem pemondokan saja. Namun pada tataran metode pembelajaran apa yang telah dilakukan dan ditradisikan pesantren selama ini nyatanya jauh lebih maju dibandingkan konsep pendidikan yang ditawarkan oleh pemerintah kolonial Belanda waktu itu. Ya, pesantren telah lebih dahulu mengenal budaya syawir atau musyawarah. Tradisi syawir atau musyawarah adalah tradisi diskusi mendalam mengenai topik pembahasan sebuah mata ajaran. Diskusi ini bersifat sangat dinamis dan tidak jarang di sana terdapat dialektika ilmiah serta perdebatan akademik yang terjadi antar pesarta musyawarah.

Kegiatan musyawarah tersebut nyatanya sampai saat ini, diakui atau tidak, telah diadopsi menjadi sistem pembelajaran dalam perkuliahan. Apapun jenjangnya, mulai dari sarjana sampai tingkat doktoral metode utama yang diandalkan dalam sebuah perkuliahan adalah metode diskusi.

Islam ramah, Islam Nusantara

Lebih jauh penting untuk diingat, melalui pesantrenlah paham-paham serta ajaran Islam rahmatan lil alamin, yang meletakkan ajarannya dalam bingkai yang akomodatif dengan kultur serta budaya lokal, disemaikan kepada santri bahkan sejak dini. Maka tidak mengherankan jika ada yang menyimpulkan bahwa pesantren adalah basis tumbuh kembangnya Islam yang “ramah”, bukan Islam yang “marah”.

Mengedepankan Islam dengan wajah yang ramah sungguh tidaklah mudah di tengah rongrongan aneka faham. Apalagi arus hilir-mudik Islam “marah” yang cenderung reaktif dalam memaknai serta manjalankan diktum-diktum agama tersebut bisa terbilang sangat masif dan intensif hari ini. Dan di sinilah saya rasa bahwa pendidikan pesantren semakin menemui titik urgensinya.

Oleh karenanya, beralaskan keunggulan yang ditawarkan oleh sistem pendidikan pesantren maka seyogyanya sebagai bagaian kecil dalam andil mengimplementasikan semangat Islam yang ramah kita harus mengapresisasi serta mendukung segala bentuk serta gerakan yang mengajak kembali ke Pesantren sebagaimana yang digaungkan oleh Said Aqil Siradj.

Karena sesungguhnya gerakan kembali ke pesantren adalah gerakan kembali memahami nilai-nilai keislaman yang ramah serta pendidikan yang berbudaya. Dan kedua nilai tersebut sejatinya teringkus dalam bingkai satu formula yakni Islam Nusantara. Semoga Muktamar ke-33 NU yang mengambil tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia” bisa dihelat dengan sukses sehingga kita bersama bisa mencecap hasilnya, terutama tentang pendidikan Islam yang ramah. Wallahu a’lam bi showab.

 Dimuat di Republika Jumat. 22 Mei 2015

Share This

About the author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *